SLC SMA Plus Cordova Panggung Refleksi yang Lebih Jujur dari Sekadar Angka
Ada pelajaran yang tak bisa dituliskan dengan tinta. Pelajaran itu lahir dari keberanian bercermin, mengakui luka karena gagal, lalu berdiri lagi dengan mimpi yang lebih jernih. Pelajaran itulah yang bergema di SMA Plus Cordova, dalam gelaran Student Learning Conference atau SLC.
Di ruang kelas yang biasanya sunyi saat pembagian rapor, kali ini mengalun suara-suara muda. Bukan meratapi angka, melainkan menarasikan proses. Para siswa SMA Plus Cordova bercerita tentang jatuh bangun mereka dalam memahami rumus, tentang kerja tim yang nyaris kandas, tentang karya yang lahir dari tangan dan hati.
Fuad Nirwantoro selaku Kepala SMA Plus Cordova, memandang SLC sebagai investasi karakter. "Kita sering terjebak pada angka. Padahal proses adalah guru sesungguhnya. SLC mengajarkan anak-anak bahwa kegagalan hari ini adalah cerita berharga untuk langkah esok," ujarnya teduh.
Muhimatul Khoiroh, Ketua Panitia menambahkan bahwa SLC tahun ini menghadirkan metamorfosis. "Anak-anak bukan lagi sekadar penerima rapor. Mereka adalah pencipta makna. Mini film, miniatur rumah adat, ebook puisi, semua itu adalah jejak perjalanan jiwa. Prestasi olimpiade memang membanggakan, tapi kejujuran mengakui kelemahan justru lebih bercahaya."
Siti Laras Afifah, seorang ibu, menemukan mutiara di balik acara ini. "Anak saya berbicara tentang kegelisahan yang tak pernah ia ungkap. Tentang cita-cita yang ia rawat diam-diam. Di situlah saya sadar, SLC adalah jembatan hati. SCL menyambung yang lama terputus," katanya lirih.
SLC di SMA Plus Cordova bukan sekadar acara seremonial. SCL adalah napas panjang pendidikan yang mengembalikan hakikat belajar untuk tetap bisa mendengarkan suara hati sendiri. Sebab pada akhirnya, bukan angka rapot yang akan dikenang, melainkan proses menjadi manusia yang utuh. Dan di SMA Plus Cordova, proses itu dimulai dengan satu keberanian sederhana yaitu jujur pada diri sendiri dan bertanggung jawab pada proses.